Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah


Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/bksdasul/public_html/xsetup/koneksi.php on line 8
Slide Taman Wisata Alam Wera
Slide Habitat Maleo di Desa Taima
Slide
Slide Danau Poso
Slide


Kamera Trap dan Monitoring Satwa Liar

06 Desember 2015

 

Survei monitoring satwa liar kerap kali mengalami kesulitan dalam mempelajari ekologi satwa liar dengan metode konvensional yaitu usaha dalam penelitian satwa tanpa mengganggu satwa tersebut. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi kamera trap diharapkan dapat memberikan solusi atas kendala yang dihadapi. Keuntungan penggunaan kamera trap yaitu menghasilkan data yang lebih akurat. Kekurangan penggunaan kamera trap yaitu apabila kamera tidak bekerja dengan baik maka kamera tersebut sama sekali tidak dapat dimanfaatkan untuk membantu penelitian survei monitoring satwa liar. Faktor yang mempengaruhi kinerja kamera yaitu cuaca, kemampuan dan pengalaman pengguna, kondisi unik dilapangan dan kualitas kamera. Kamera trap yang digunakan yaitu kamera trap tipe trigged system yang akan merekam gambar dengan adanya pemicu, menggunakan sensor. Menggunakan sensor yang akan aktif ketika ada objek/benda bergerak yang memiliki kontak suhu berbeda dengan lingkungan melalui area cakupan sensor.

 

 

Kamera trap adalah alat yang bermanfaat untuk memonitor dan untuk konservasi kehidupan liar di hutan dan bisa dipergunakan untuk memonitor populasi dari banyak jenis satwa liar yang biasanya sulit untuk di temukan dan di teliti. Hal terpenting dalam penggunaan kamera trap adalah mendapatkan foto yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi satwa liar yang sedang dimonitor, dan memilih media yang pantas untuk memasang kamera trap mungkin menjadi variabel terpenting untuk mendapat foto dan data yang perlukan. Untuk memaksimalisir keberhasilan penggunaan kamera trap, sebaiknya kamera trap dipasang di area yang diduga sering dilalui satwa liar. Area ini termasuk jalur satwa, tempat permukaan dimana satwa menjilat garam (mineral) alami dan sumber air. Karena itu pengetahuan mengenai tanda-tanda yang menunjukan kehadiran satwa liar diperlukan untuk menentukan lokasi kamera trap yang terbaik. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan untuk memperbesar keberhasilan dalam mendapat foto yang bagus, dan ini bisa bergantung pada situasi cuaca lokal, apakah ada jenis satwa liar yang dimonitor dan tipe habitat. Sebelum menentukan lokasi untuk kamera trap, adalah penting untuk mengkaji lingkungan, melakukan beberapa perjalanan penyelidikan, dan mencatat lokasi dimana jalur jelajah satwa jelas ada. Biasanya perlu beberapa hari untuk menilai lokasi sebelum memasang kamera. Pengetahuan dan rekomendasi orang setempat mengenai lokasi yang layak sebaiknya di pergunakan dalam tahap persiapan survei. Kemungkinan besar makin banyak waktu yang di pakai untuk persiapan awal ini dan tahap perabaan, makin bagus lokasi yang akan didapatkan, namun ini harus dipertimbangkan dengan logistik dan waktu. Metoda spesifik dan khususnya aturan jarak dan pemasangan kamera trap berpasangan akan di tentukan oleh metoda dan pertanyaan penelitian. Tidak ada jarak antara lokasi kamera trap dan pemasangan kamera trap berpasangan biasanya dilakukan dalam pendekatan ‘capture-recapture’ (CR) (menangkap dan menangkap kembali). Untuk pendekatan ‘standard occupancy’ (kepadatan standar) biasanya di sarankan untuk memastikan satu satwa liar tidak tertangkap di lebih dari satu lokasi kamera trap – sebaliknya dari pendekatan CR. Untuk kepadatan, jumlah kamera yang juah lebih sedikit (daripada jumlah populasi satwa liar sasaran), dan pendekatan luas akan lebih baik.

 

 

Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi pemasangan kamera trap agar diperoleh hasil gambar yang maksimal :

 

 

1. Ketinggian kamera trap

Kamera trap semestinya di pasang disesuaikan dengan standar tinggi rata-rata satwa liar yang sedang dimonitor agar didapatkan hasil yang jelas di tengah gambar. Biasanya ini 50cm diatas tanah, dipasang di pohon atau tiang, tapi ketinggian bisa berubah jika tanah tidak rata.

 

 

2. Jarak dari jalur

Biasanya kamera dipasang 2m dari jalur untuk memastikan area pemandangan yang cukup. Memilih pohon atau posisi tiang harusnya berdasarkan jarak optimal antara kamera dan titik pusat di jalur. Ini bisa berbeda dengan setiap model kamera yang dipakai dan misalnya bisa dipengaruhi oleh kecepatan kamera bereaksi. Kamera yang reaksinya lamban perlu di pasang lebih jauh (sampai 5m) untuk menghindari foto dimana satwa tidak di pusat gambar atau sama sekali tidak masuk gambar.

 

 

3. Posisi kamera trap

Biasanya kamera trap dipasang tegak lurus terhadap jalur untuk mendapatkan pandangan sisi dari satwa yang lewat, tapi bisa juga di pasang sedikit miring untuk meningkatkan jarak dari jalur. Tidak di anjurkan memasang kamera menghadap jalur, karena dengan begini hanya foto bagian depan atau belakang dari satwa akan didapatkan dan ini sulit untuk diidentifikasi. Periksa di sekitar kamera dan area yang difoto untuk memastikan semuanya bersih dari puing-puing dan vegetasi yang bisa menghalangi pandangan, atau mengurangi kemungkinan medapat gambar. Daun-daun besar atau ranting-rantig kecil yang kena angin/hujan bisa merusak gambar yang bagus atau membuat kamera mengambil gambar yang kosong. Membersihkan area juga akan mengurangi kemungkinan tanaman tumbuh selama masa pemasangan kamera trap.

 

 

4. Kamera trap dipasang berpasangan

Memasang kamera berpasangan, berseberangan akan meningkatkan kemungkinan mendapatkan foto yang bisa dipakai untuk monitoring satwa, jika satwa yang sama didapatkan lagi di lain waktu. Kedua kamera trap perlu dipasang berseberangan, satu menghadap yang lain, tapi sedikit miring untuk menghindari kamera trap atau cahaya dari lampu kamera yang satu kelihatan di gambar kamera pasangannya.

 

 

5. Cahaya

Di lokasi yang terbuka usahakan kamera trap diarahkan ke selatan atau utara. Ini akan mengurangi gambar dengan cahaya yang jelek disebabkan pantulan cahaya. sebaiknya menguji kamera trap sebelum memasangya di lapangan untuk menentukan area deteksi dan kecepatan reaksi dari kamera trap. Satu orang seharusnya merangkak didepan kamera dan hasilnya harusnya di periksa di layar kamera.

 

 

Dalam dekade terakhir, dengan kemajuan kualitas peralatan kamera, monitoring dengan menggunakan kamera trap lebih digemari, selain membantu menghitung estimasi populasi satwa liar di habitat asli, kita juga bisa mempelajari sifat-sifat, interaksinya dengan spesies lain, serta perilaku satwa tersebut di alam liar.

 

 

Oleh :Wahyu Yuananti, S.Kom [Pranata Komputer Pertama]