Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah

Slide Taman Wisata Alam Wera
Slide Habitat Maleo di Desa Taima
Slide
Slide Danau Poso
Slide


CAGAR ALAM MOROWALI

PROVINSI SULAWESI TENGAH

 

1. Nama Kawasan : CAGAR ALAM MOROWALI

 

2. Pengelola Kawasan :

-     Resort I dan Resort II

-     Seksi Konservasi Wilayah II - Poso

-     Balai konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Tengah

 

3. SK Penunjukan/penetapan :

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 237/Kpts-II/1999 tertanggal 27 April 1999  menetapkan kelompok hutan CA Morowali sebagi kawasan hutan tetap dengan fungsi konservasi dengan luas 209.400 Ha.

 

4. Luas (Ha) : 209.400  Ha.

 

5. Letak administratif,  Letak Geografis dan Batas  wilayah :

Administratif : Secara administratif pemerintahan CA Morowali termasuk wilayah Kabupaten Morowali (bagian wilayah Kecamatan Soyo Jaya, Bungku Utara, dan Mamosalato) dan Kabupaten Tojo Una Una (meliputi bagian wilayah kecamatan Ulubongka).

 

Geografis        : Secara geografis, kawasan CA Morowali terletak antara 121o15’23”-121o46’11” Bujur Timur dan antara 1o19’38”-1o57’35” Lintang Selatan.

 

Batas-batas kawasan adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara         :    Hutan Lindung dan Hutan Produksi

- Sebelah Selatan      :    Teluk Tomori dan Teluk Tolo

- Sebelah Timur        :    Ulu Bongka, Bungku Utara dam Desa Baturube

- Sebelah Barat         :    HPH Tri Tunggal Eboni dan HPH Wahana Sari Sakti

 

6. Sejarah Kawasan :

Melalui Keputusan Nomor: 133/Kpts/Um/3/1980 tanggal 3 Maret 1980, Menteri Pertanian menunjuk Kelompok Hutan Morowali sebagai Kawasan Cagar Alam (CA) dengan perkiraan luas 200.000 Ha.

 

Selanjutnya melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 374/Kpts-VII/1986 tanggal 24 November 1986 kawasan ini ditetapkan sebagai CA Morowali seluas 225.000 Ha. Terakhir, Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Keputusan Nomor: 237/Kpts-II/1999 tertanggal 27 April 1999 kembali menetapkan kelompok hutan CA Morowali sebagi kawasan hutan tetap dengan fungsi konservasi dengan luas 209.400 Ha.

 

7. Topologi :

Kawasan CA Morowali didominasi oleh kelompok lahan yang secara fisiografi berbukit dan bergunung, dengan topografi sebagian besar curam dan sangat curam (kelas lereng lebih dari 25%), tersebar pada bagian Barat, Utara dan Timur kawasan. Sedangkan bagian kawasan dengan topografi datar, landai hingga agak curam tersebar di Selatan dan Tenggara kawasan hingga ke batas pantai.

 

Areal dengan topografi curam dan sangat curam ini meliputi lebih dari 65% kawasan cagar alam. Beberapa gunung yang terdapat di kawasan Cagar Alam Morowali antara lain Gunung Tokala, gunung Tambusisi, dan Gunung Morowali.  Gunung yang tertinggi adalah Gunung Tokala dengan tinggi 2.600 meter diatas permukaan laut. 

 

8. Geologi dan Tanah :

Batuan sedimen alluvium, ndak, dan terumbu koral dan batuan pluton (bahan basa).

Tanah Alluvial dengan bentuk wilayah datar sampai berombak dan berfisiografi dataran yang meliputi seluruh dataran Morowali dan jenis tanah-tanah kompleks dengan bentuk wilayah berbukit sampai bergunung dan fisiografi pegunungan kompleks.

 

9. Hidrologi :

Hidrologi Kawasan CA Morowali merupakan hulu Sungai Sumara, Sungai Morowali, Sungai Tiworo, Sungai Salato, dan Sungai Ula.  Di samping sungai, terdapat juga 2 (dua) danau yang cukup besar, yaitu Danau Amba (Danau Bae) dan Danau Kodi, yang mempunyai peranan penting dalam hidrologi.

 

10. Iklim :

Iklim dan Curah Hujan Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk tipe A, (daerah basah dengan nilai Q antara 0 - 14,3%). Curah hujan 2.500 mm pertahun, kecuali sebagian kecil bagian kawasan sebelah Utara, dengan curah hujan antara 2.000 mm - 2.500 mm pertahun.

 

11. Tipe Ekosistem :

Beberapa tipe hutan atau ekosistem antara lain Hutan Mangrove, Hutan Alluvial Dataran Rendah, Hutan Pegunungan, Hutan Lumut, dan Hutan Sekunder. ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan hujan dataran rendah (kering dan basah/rawa) dan hutan hujan pegunungan.

 

12. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat setempat :

Adapun Desa-desa yang bagian wilayahnya merupakan bagian dari kawasan cagar alam Morowali yang dipetakan mencakup 20 desa/kelurahan, masing-masing 12 desa/kelurahan di Kecamatan Bungku Utara, 6 desa/kelurahan di Kecamatan Soyojaya, 1 desa/kelurahan di Kecamatan Mamosalato Kabupaten Morowali, serta 1 desa/kelurahan di Kecamatan Ulubongka Kabupaten Tojo Una-una (TOUNA).

Adapun sektor paling dominan dalam menggerakan roda perekonomian di Kabupaten Morowali adalah sektor pertanian dengan kontribusi terhadap PDRB sebesar 67.93%, yang didukung oleh 3 Sub Sektor andalan yakni Sub Sektor Kehutanan sebesar 17.75%, Perkebunan 15.81% dan Sub Sektor Perikanan 7.12%, disusul Sektor Jasa 10,04%,Sektor Perdagangan 9.90% dan Sektor Industri Pengolahan 3.77%.

 

13. Potensi Fauna :

Jenis-jenis mamalia besar endemik Sulawesi adalah Anoa dataran tinggi (Bubalus quarlessi), Babirusa (Babyrous babirussa), Musang coklat Sulawesi (Macrogalidia muschenbroeki), Monyet hitam (Macaca tonkeana), Kuskus (Phalanger celebensis dan P. ursinus). Di samping itu terdapat juga babi hutan (Sus celebenisis), Rusa (Cervus timorensis), Musang (Vivera tangalanga), jenis-jenis tikus (Rattus sp), dan jensi-jenis kelelawar.

Jenis-jenis burung laut seperti Haliacetus lengogaster, Sturnidae, dan Sulidae. Jensi burung air danau antara lain Lik pohon (Denrocygna sp), Anos gibber, Anhinga melanogaster, dan Ardea purpurea. Jenis-jenis lainnya Prionturus platurus, Trichoglossu ornatus, T. flavoridid, Megapodius freycinet, dan Macrocephalon maleo.

Jenis-jenis reptil antar lain Biawak (Hydrosaurus amboinensis dan Varanus sp), Kura-kura (Testusdo sp), Ular phyton, Ular daun (Nafric sp), Psamurodynastes sp, dan Trimersurus wagleri.

Jenis-jenis invertebrata yang ada antara lain jenis kupu-kupu (Lycaunidae), Kumbang, dan Rayap.

 

14. Potensi Flora :

Flora pada Hutan Mangrove di sepanjang pantai yang berlumpur, jenis-jenis yang dominan adalah Bakau (Rhizopora apiculata, R. mucronata, dan R. alba), di belakang garis pertumbuhan Rhizopora ini terdapat Bruguieera gymnorrhiza, Lumnitzera littorea, Ceriops, dan Coropa abovata, di daerah kering pada batas daratan dengan hutan bakau, tumbuh Acrosthicum sp., Pandanus sp., Ficus, Eugenis, dan Casuarina sp.

 

Pada Hutan Alluvial Dataran Rendah jenis yang dominan adalah Callophyllum soulatri. Jenis-jensi lain yang ada adalah Santiria sp., Kellbergiodendron celebicum, Ganostyllus macrophyllus, Alstonsi scholaris, Eugenis sp., Garcinia dulci, Palaquium sp., dan Parinaria corymbosa.

 

Pada Hutan Pegunungan, jenis-jenis yang dominan adalah Castanopsis sp., Palaquium sp., Lithocarpus sp., Elaeocarpus sp., Tristania sp., Pangium edule, dan Homalium foetidum. Jenis-jenis lain yang ada adalah Diospyros sp., Polyalthia celebica, Agathis sp., dan lain-lain.

 

Pada Hutan Lumut yang dijumpai pada ketinggian di atas 1.600 mdpl. Jenis-jenis pohon yang ada adalah Lithocarpus sp., Querqus, Tristanis, dan Pandanus sp.

Hutan Sekunder merupakan daerah bekas perladangan, terdapat padang alang-alang.  Jenis–jenis pohon yang ada adalah Themeda, Saccaharum spoutaneum, Psidium guajava, dan lain-lain.

 

15. Atraksi sosial budaya :

Berdasarakan pengamatan dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat, simbol-simbol pelaksanaan adat istiadat dan pola kebiasaan yang berlaku mengejewantahkan dalam upacara-upacara ritual sebagai berikut :

  1. Padungku, upacara sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen. 
  2. upacara montambori, dilakukan ketika da kematian.  Upacara ini biasanya dilakukan oleh bangsawan dalam arti upacara akan dilaksanakan apabila salah seorang raja wafat
  3. kegiatan balihara (kebersamaan), kegiatan gotong royong dalam keseharian seperti pada saat ada kematian, suka cita, dll.  Kegiatan ini hanya dikenal oleh  dalam masyarakat bungku.

 

16. Aksesibilitas :

Dari Kota Palu (Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah), Kota Kolonodale berjarak sekitar 430 km, ditempuh dalam waktu sekitar 12 jam melalui jalan darat yang sebagian kondisinya tidak begitu baik dan sempit. Akses ke sebagian besar kawasan dan desa-desa di sekitarnya masih cukup sulit, dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki atau melalui sungai.

 

17. Penataan Blok : -

 

18. Rencana Pengelolaan :

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Morowali Periode 1 April 1995 s/d. 31 Maret 2020 Kabupaten Dati II Poso Propinsi Dati I Sulawesi Tengah.

 

19. Desain Tapak pada Zona / Blok Pemanfaatan : -

 

20. Jalur Interprestasi Wisata Alam : -

 

21. Paket Wisata : -

 

22. Potensi Gangguan Kawasan :

-       Perambahan kawasan CA Morowali

-       Pemukiman dan perladangan berpindah oleh Suku Wana

-       Perburuan liar

-       Penebangan illegal

 

23. Alamat Kantor :

-     Resort I dan Resort II

Desa Kolonedale dan Desa Baturube Kab. Morowali

-     Seksi Konservasi Wilayah II – Poso

Jln. Trans Sulawesi No. 87 Desa Tagolu Kec. Lage Kabupaten Poso 94661 Telp. -

-     Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Tengah

Jln. Prof. Moh. Yamin No. 19 Palu Telp./ Fax. (0451)-481106

 

24. Branding dan Maskot Kawasan :

Babirusa (Babyrousa babirussa)

Anoa (Bubalus quarlessi dan Bubalus depresicornis)