Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah


Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/bksdasul/public_html/xsetup/koneksi.php on line 8
Slide Taman Wisata Alam Wera
Slide Habitat Maleo di Desa Taima
Slide
Slide Danau Poso
Slide


Pembinaan Habitat Anoa di Cagar Alam Pamona

21 April 2014

Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi) merupakan satwa mamalia endemik Pulau Sulawesi. Anoa hanya ada di dataran Pulau Sulawesi dan Pulau Buton (Sulawesi Tenggara). Anoa dalam peraturan perundangan di Indonesia termasuk sebagai satwa liar yang dilindungi, The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan Anoa dalam kategori Endangerad dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan Anoa dalam appendix I.

 

Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam telah menetapkan sebanyak 14 (empat belas) spesies prioritas utama terancam punah yang menjadi target peningkatan populasi melalui Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No.SK.132/IV-KKH/2011 tanggal 8 Juli 2011. Spesies prioritas utama terancam punah tersebut adalah Harimau sumatera, Gajah sumatera, Badak Jawa, Banteng, Orangutan Kalimantan, Komodo, Owa Jawa, Bekantan, Anoa, Babirusa, Jalak Bali, Elang Jawa, Maleo dan Kakatua-kecil jambul-kuning.

 

Peningkatan populasi Anoa sebesar 3% sebagai pencapaian indikator kinerja dapat diupayakan melalui kegiatan inventarisasi dan monitoring, pembinaan populasi dan habitat, penanganan dan pengendalian konflik satwa dan manusia, serta penyelamatan satwa, rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke alam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah sebagai Unit Pelaksana Teknis mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan habitat dan menjaga populasi Anoa melalui upaya kegiatan pembinaan habitat Anoa di Cagar Alam Pamona. Daerah jelajah Anoa pada saat ini sangat terbatas dan kawasan hutan yang diperuntukkan sebagai habitat terlalu kecil dibandingkan dengan distribusi Anoa. Perburuan liar menjadi ancaman yang serius untuk dimanfaatkan daging, kulit dan tanduk.

 

Pembinaan habitat Anoa dilakukan di Cagar Alam Pamona  Kabupaten Poso Kecamatan Pamona Selatan dilaksanakan pada tanggal  17 Maret 2014 sampai dengan 26 Maret 2014. Kegiatan pembinaan habitat Anoa di Cagar Alam Pamona mempunyai tujuan umum untuk menjaga keberadaan populasi Anoa di Cagar Alam Pamona dalam keadaan seimbang dengan daya dukungnya. Pencapaian tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tujuan khusus pada kegiatan pembinaan kali ini antara lain:

 

  1. Mempertahankan habitat Anoa di Cagar Alam Pamona dalam kondisi aman dan stabil agar dapat berkembangbiak dengan baik.
  2. Pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan tanaman sumber pakan Anoa.
  3. Mempertahankan keberadaan populasi Anoa di Cagar Alam Pamona agar tidak menurun.
  4. Menjaga keberadaan populasi Anoa dari gangguan manusia.

 

Kegiatan pembinaan habitat Anoa diawali dengan survey lapangan yang dilakukan untuk mengetahui permasalahan gangguan kawasan untuk menentukan lokasi pemasangan rambu-rambu/ papan informasi seperti gangguan kebakaran hutan, pembukaan lahan, perburuan satwa, penebangan liar serta lokasi pembuatan menara.

 

Survey dilakukan pada lokasi atau habitat yang dijadikan tempat pengamatan pada kegiatan inventarisasi/monitoring populasi anoa yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Lokasi menara pengamat yang diharapkan adalah merupakan tempat berkubang atau dekat dengan sungai dengan harapan akan lebih mudah menjumpai anoa. Survey lapangan juga dilakukan untuk pemasangan rambu-rambu/papan informasi sebagai upaya menjaga keutuhan habitat anoa. Survey yang dilakukan pada lokasi yang sering atau dekat aktivitas manusia yaitu disekitar batas kawasan cagar alam pamona.

 

1.Pembuatan Menara

Pembuatan menara pengamat satwa digunakan untuk pengamatan Anoa dengan metode terkonsentrasi. Tempat yang tinggi diharapkan tidak akan mengganggu/ menakut-nakuti bila Anoa melintas di sekitar lokasi pengamatan baik secara fisik ataupun penciuman/ bau. Satwa liar pada umumnya akan mendekati sumber air, khususnya Anoa satwa ini sangat suka berkubang sehingga penentuan lokasi menara pengamat berada di sekitar sungai dan kubangan.

Tinggi total menara pengamat ± 6,5 meter, namun ketinggian hingga lantai sekitar 5 meter. Menara pengamat yang dibuat 1 (satu) unit. Menara dibuat sekitar 15 meter dari sungai.

 

2. Pemasangan Rambu-Rambu/ Papan Informasi

Pemasangan rambu-rambu/ papan informasi merupakan upaya pencegahan terhadap kerusakan hutan yang merupakan habitat Anoa dan satwa liar lainnya. Pemasangan rambu-rambu diharapkan dapat mempertahankan populasi Anoa. Rambu-rambu yang dipasang sebanyak 20 buah dengan 9 tema/ desain.

 

Rambu-rambu/papan informasi dipasang secara menyebar sesuai dengan identifikasi potensi permasalahan kawasan yang telah dilakukan pada kegiatan survey lapangan. Pemasangan rambu-rambu/ papan informasi merupakan upaya pencegahan terhadap kerusakan habitat Anoa, perburuan liar, kebakaran hutan, penebangan liar.

 

Pembinaan habitat dan populasi satwa menurut petunjuk teknis jabatan fungsional pengendali ekosistem hutan dapat juga melalui kegiatan: (a) Pembinaan padang rumput untuk makanan satwa, (b) Pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa, (c) Penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa, (d). Penjarangan populasi satwa, (e). Penambahan tumbuhan/satwa asli, (f). Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.

 

Kegiatan pembinaan habitat anoa di cagar alam pamona yang terpenting saat ini adalah dengan tetap terpeliharanya pohon-pohon pelindung dan tumbuhan sumber pakannya dari para penebang liar, karena pada saat ini kondisi habitat anoa di Cagar Alam pamona masih baik.[ Bambang Widiatmoko, PEH Penyelia]